Menjaga Laut, Menjaga Masa Depan: KKL Generasi Bahari ’26 FPIK UNIPAS

Dari ruang materi hingga refleksi bersama masyarakat Pulau Kokoya, mahasiswa baru FPIK UNIPAS belajar menjadi bagian dari penjaga laut
Selama tiga hari, 18–20 September 2026, mahasiswa baru Generasi Bahari Angkatan 26 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Pasifik (UNIPAS) mengikuti Kuliah Kenal Lingkungan (KKL). Mengusung tema “Save Our Sea, Save Our Future”, kegiatan ini menjadi ruang awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan, memahami kehidupan masyarakat pesisir, membangun karakter, sekaligus mengenal nilai-nilai yang akan menjadi bagian dari perjalanan mereka sebagai mahasiswa FPIK.
KKL ini dipersiapkan dan dijalankan oleh panitia dari senioritas Angkatan 25, yang mendapat kepercayaan dan amanah dari senioritas di atas Angkatan 25 untuk meneruskan proses KKL kepada Generasi Bahari ’26. Karena itu, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk belajar, tetapi juga menjadi bagian dari proses kaderisasi dan penerusan tanggung jawab antargenerasi di FPIK.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan turut dikawal oleh Dekan FPIK UNIPAS Iswandi Wahab, S.Pi., M.Si., Ketua Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) Asy’ari, S.Pi., M.Si., Ketua Program Studi Ilmu Kelautan (IK) Sandra Hi. Muhammad, S.Pi., M.Si., serta dosen FPIK lainya yakni, Pak Rinto M. Nur dan Pak Fijai Pina
Kegiatan dibuka pada Jumat malam sekitar pukul 20.00 WIT oleh Dekan FPIK yang sekaligus menjadi narasumber pertama dengan materi Pengantar Ilmu Perikanan. Setelah pembukaan, mahasiswa mengikuti rangkaian materi yang berkaitan dengan kehidupan akademik maupun sosial, mulai dari sosiologi masyarakat pesisir, filsafat, gender, pembentukan karakter mahasiswa perikanan, etika dan moral, hingga penguatan mentalitas mahasiswa dalam menjalani kehidupan perkuliahan.
Namun KKL tidak berhenti pada ruang materi. Mahasiswa juga diajak untuk mengenal lingkungan secara langsung dan melihat kehidupan masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan laut. Di sinilah tema “Save Our Sea, Save Our Future” menemukan maknanya: bahwa laut bukan hanya ruang tempat ikan hidup, tetapi juga ruang kehidupan bagi manusia dan sumber penghidupan bagi banyak masyarakat.
Pada malam puncak, suasana KKL kemudian diarahkan pada ruang refleksi. Mahasiswa diajak melihat kembali rasa lelah yang mereka rasakan selama kegiatan dan membandingkannya dengan perjuangan masyarakat yang setiap hari bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Nelayan yang tetap melaut meski hasil tangkapan belum tentu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, petani yang berhadapan dengan kekeringan, hingga hasil pertanian yang terkadang tidak memiliki harga yang layak, menjadi gambaran bahwa perjuangan masyarakat jauh lebih panjang daripada sekadar rasa lelah selama tiga hari KKL.
Di balik kesempatan mahasiswa untuk menempuh pendidikan, ada orang tua yang terus berjuang. Ada ibu yang menunggu dan mendoakan, ada ayah yang bekerja dan menahan lelah agar anaknya dapat berkuliah. Karena itu, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang memperoleh ilmu untuk diri sendiri, tetapi juga tentang memahami kehidupan dan perlahan belajar mengambil tanggung jawab terhadap lingkungan serta masyarakat.
Dalam rangkaian KKL, mahasiswa juga berkesempatan berinteraksi dengan Pak Rusmin, salah satu penghuni Pulau Kokoya yang diperkirakan berusia 60–70 tahun. Pertemuan tersebut menghadirkan cerita lain tentang lingkungan yang selama ini mungkin tidak ditemukan dalam ruang kelas.
Rusmin menyampaikan keresahannya terhadap kebiasaan sebagian orang yang datang ke Pulau Kokoya menggunakan perahu fiber untuk memancing sekaligus mengambil pasir. Ia berpesan agar masyarakat mengurangi pengambilan pasir tersebut. Baginya, persoalannya bukan hanya berapa banyak pasir yang diambil dalam satu waktu, tetapi aktivitas yang dilakukan terus-menerus dapat memberikan dampak terhadap kondisi pulau.
Yang lebih penting dari pesan itu adalah cara memandang Pulau Kokoya. Pulau Kokoya bukanlah pulau kosong dan tidak bernilai. Di sana ada lingkungan, ada kehidupan, ada masyarakat, dan ada ruang yang harus dijaga. Karena itu, keberadaan pulau tidak semestinya hanya dilihat dari apa yang dapat diambil darinya, tetapi juga dari apa yang harus dipertahankan untuk generasi berikutnya
Pengalaman bersama Pak Rusmin menjadi salah satu bagian yang mempertemukan mahasiswa dengan realitas langsung di lapangan. Dari sana mahasiswa belajar bahwa menjaga laut berarti pula menjaga pulau-pulau kecil, pesisir, sumber daya alam, dan kehidupan masyarakat yang berada di dalamnya
Setelah seluruh rangkaian kegiatan berlangsung, KKL Generasi Bahari ’26 ditutup pada Minggu sekitar pukul 16.00 WIT oleh Ketua Prodi THP Yakni Pak Asy'ari. Dalam penutupan, mahasiswa kembali diingatkan agar di mana pun berada, mereka tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya. Pesan tersebut sekaligus menjadi bekal bagi Generasi Bahari ’26 untuk membawa nilai yang mereka dapatkan selama KKL ke dalam kehidupan kampus dan kehidupan bermasyarakat
Pada akhirnya, KKL bukan sekadar tiga hari berkegiatan. Ia menjadi pertemuan antara ilmu, pengalaman, senioritas, masyarakat, dan lingkungan. Apa yang diberikan oleh senioritas, dosen, panitia, dan masyarakat selama kegiatan diharapkan tidak berhenti ketika KKL berakhir, tetapi terus dibawa dalam perjalanan Generasi Bahari ’26 sebagai mahasiswa FPIK
Sebab, menjaga laut hari ini berarti menjaga masa depan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya
Selaku panitia KKL dan seluruh senioritas FPIK Unipas Juga mengucapkan Terima Kasi banyak kepada Alumni FPIK yang telah berpartisipasi dalam bentuk materi maupun pikiran, sehinga kegiatan ini dapat berjalan sampai selesai, terimah kasi juga untuk para Dosen FPIK yang ikut serta dalam mensuksesi kegiatan KKL.![]()
SAVE OUR SEA
SAVE OUR FUTURE
Menjaga Laut Kita, Menjaga Masa Depan Kita


